BAB
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Aliran konvergensi dipelopori
oleh William stern, Ia berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan di dunia
sudah disertai pembawaan bayi baik maupun pembawaan buruk. Proses pembawaan
anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama peranan sangat
penting. Bakat yang di bawa pada waktu lahir tidak akan berkembang dengan baik
tanpa adanya dukungan lingkungan sesuai perkembangan anak itu. Adapun tujuan
penulisan artikel ini yaitu pemberikan pemahaman kepada setiap calon tenaga
kependidikan, utamanya calon pakar kependidikan tentang aliran-aliran klasik
dan pendidikan (konvergensi) agar dapat menangkap makna setiap gerak dinamika
pemikiran-pemikiran pendidikan.
1.2 Tujuan
- Untuk mengetahui tentang teori konvergensi
- Untuk mengetahui Sejarah perkembangan teori konvergensi
- Untuk mengetahui tokoh teori konvergensi
1.3 Rumusan Masalah
- Apa yang dimaksud teori konvergensi?
- Apa saja sejarah perkembangan teori konvergensi?
- Apa saja pendapat tokoh mengenai teori konvergensi?
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Teori Konvergensi
Aliran konvergensi berasal dari kata
konvergen, artinya bersifat menuju satu titik pertemuan. Aliran ini
berpandangan bahwa perkembangan individu itu baik dasar (bakat, keturunan)
maupun lingkungan, kedua-duanya memainkan peranan penting. Bakat sebagai
kemungkinan atau disposisi telah ada pada masing-masing individu, yang kemudian
karena pengaruh lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan untuk perkembangannya,
maka kemungkinan itu lalu menjadi kenyataan. Akan tetapi bakat saka tanpa
pengaruh lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan tersebut, tidak
cukup, misalnya tiap anak manusia yang normal mempunyai bakal untuk berdiri di
atas kedua kakinya, akan tetapi bakat sebagai kemungkinan ini tidak akan
menjadi menjadi kenyataan, jika anak tersebut tidak hidup dalam lingkungan
masyarakat manusia.
2.2. Perkembangan Teori Konvergensi
Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai
pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh kembang manusia. Meskipun
demikian, terdapat variasi mengenai faktor-faktor mana yang paling penting
dalam menentukan tumbuh kembang itu. Seperti telah dikemukakan bahwa
variasi-variasi itu tercermin antara lain dalam perbedaan pandangan
tentang strategi yang tepat untuk memahami perilaku manusia,
seperti strategi disposisional/konstitusional, startegi
phenomenologis/humanistic, startegi behavior, strategi
psikodinamik/psikoanalitik, dan sebagainya.
Demikian
halnya dalam belajar mengajar; variasi pendapat itu telah
menyebabkan munculnya berbagai teori belajar mengajar dan atau
teori/model mengajar. Sebagai contoh, dikenal berbagai
pendapat tentang model-model mengajar seperti rumpun model behavior (umpan model belajar tuntas,
model belajar kontrol diri sendiri, model belajar simulasi, dan model belajar
asertif), model belajar pemrosesan informasi (model belajar inkuiri,
model persentase kerangka dasar, atau advance organizer, dan model pengembangan berfikir), dan
lain-lain. Di sisi lain, variasi pendapat juga melahirkan berbagai gagasan
tentang belajar mengajar, seperti peran guru sebagai fasilitator atau informatory, teknik penilaian
pencapaian siswa dengan tugas objektif atau tes esai, perumusan
tujuan pengajaran yang sangat behavior,
dan penekanan pada peran teknologi pengajaran.
Konvergensi media tidak hanya
pergeseran teknologi atau proses teknologi, namun juga termasuk pergeseran
dalam paradigma industri, budaya, dan sosial yang mendorong konsumen untuk
mencari informasi baru. Konvergensi media terjadi dengan melihat bagaimana
individu berinteraksi dengan orang lain pada tingkat sosial dan menggunakan
berbagai platform media untuk menciptakan pengalaman baru, bentuk-bentuk baru
media dan konten yang menghubungkan kita secara sosial, dan tidak hanya kepada
konsumen lain, tetapi untuk para produsen perusahaan media
Gerakan konvergensi media tumbuh secara
khusus dari munculnya Internet dan digitalisasi informasi. Konvergensi
media ini menyatukan 3C yaitu computing
(memasukkan data melalui komputer), communication
(komunikasi), dan content
(materi isi/ konten). Teori konvergensi media yang diteliti oleh Henry Jenkins
pada tahun 2006, menyatakan
bahwa konvergensi media merupakan proses yang terjadi sesuai dengan
perkembangan budaya masyarakat.
Interaktivitas telah menjadi istilah untuk sejumlah
pilihan media baru yang berkembang dari penyebaran cepat jalur akses internet,
digitalisasi media, dan konvergensi media.
Definisi interaktifitas menggantikan komunikasi satu arah pada media
massa konvensional dengan kemungkinan komunikasi dua arah dari web. Setiap
individu dengan teknologi tepat guna sekarang dapat menghasilkan media
online-nya dan termasuk gambar, teks, dan yang lainnya.
Perkembangan teknologi media baru
adalah metode baru bagi seniman untuk berbagi pekerjaan mereka dan berinteraksi
dengan dunia besar.Unsur lain dalam interaktivitas termasuk radio dan televisi,
surat untuk editor, partisipasi pendengar dalam program tersebut, komputer dan
program-program aplikasi teknologi.
2.3 Pendapat Tokoh Mengenai Teori
Konvergensi
Perintis aliran konvergensi adalah
William Stern (1871-1939), seorang ahli pendidikan bangsa Jerman yang
berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan di dunia disertai pembawaan
baik maupun pembawaan buruk. Bakat yang dibawa anak sejak kelahirannya tidak
berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai untuk
perkembangan bakat itu. Jadi seorang anak yang memiliki otak yang cerdas, namun
tidak didukung oleh pendidik yang mengarahkannya, maka kecerdasakan anak
tersebut tidak berkembang. Ini berarti bahwa dalam proses belajar peserta didik
tetap memerlukan bantuan seorang pendidik untuk mendapatkan keberhasilan dalam
pembelajaran.
Ketika aliran-aliran pendidikan,
yakni nativisme, empirisme dan konvergensi, dikaitkan dengan teori belajar
mengajar kelihatan bahwa kedua aliran yang telah disebutkan
(nativisme-empirisme) mempunyai kelemahan. Adapun kelemahan yang dimaksudkan
adalah sifatnya yang ekslusif dengan cirinya ekstrim berat sebelah. Sedangkan
aliran yang terakhir (konvergensi) pada umumunya diterima seara luas sebagai
pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh-kembang seorang peserta didik dalam
kegiatan belajarnya. Meskipun demikian, terdapat variasi pendapat tentang
faktor-faktor mana yang paling penting dalam menentukan tumbuh-kembang itu.
BAB 3
PENUTUP
Aliran
Konvergensi Penganut aliran ini berpendapat bahwa dalam proses perkembangan
anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai
peranan yang sangat penting. Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara
luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh kembang manusia.
Meskipun demikian terdapat variasi mengenai factor-faktor mana yang paling
penting dalam menentukan tumbuhh kembang itu. Seperti telah dikemukakan bahwa
variasi-variasi itu tercermin antara lain dalam perbedaan pandangan
tentang strategi yang tepat untuk memahami perilaku manusia, seperti strategi
disposisional/konstitusional, startegi phenomenologis/humanistic, startegi
behavioral.
Konvergensi
media adalah penggabungan atau pengintegrasian media-media yang ada untuk
digunakan dan diarahkan kedalam satu titik tujuan. Konvergensi media biasanya
merujuk pada perkembangan teknologi komunikasi digital yang
dimungkinkan dengan adanya konvergensi jaringan. Konvergensi
jaringan adalah koeksistensi efisien telepon, video dan komunikasi data dalam satu jaringan. Penggunaan
beberapa mode komunikasi dalam jaringan
tunggal menawarkan kenyamanan dan fleksibilitas bukan tidak mungkin dengan
prasarana yang terpisah.
Daftar Rujukan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar